Desain Lay-Out
Surat Kabar
5 Oktober 2009
Koran atau surat kabar merupakan suatu penerbitan yang ringan dan mudah dibuang, yang biasanya dicetak pada kertas dengan kualitas rendah dan murah. Koran berisi berita-berita terbaru/terkini dalam berbagai topik bahasan, tergantung jenis korannya. Topik koran bisa berupa politik, olahraga, kriminal, hiburan dan lain-lain.
Koran terbit setiap hari, sepanjang
tahun. Dalam koran biasanya terdapat topik-topik tertentu yang dimuat pada hari
tertentu, misalnya dalam koran edisi hari Minggu.
Sebagai media informasi dan komunikasi surat kabar/koran harus mempunyai
tata letak/lay-out yang memiliki ciri-ciri, yang dapat dilihat dari format,
cara penyusunannya dalam kolom-kolom, cara pemakaian tipografi (huruf), warna,
serta penempatan berita, foto/ilustrasi, grafis dan iklan dalam satu halaman.
Ciri-ciri itu pula yang akhirnya akan membedakan segmentasi pasar suatu
media cetak, untuk menengah ke atas atau menengah ke bawah. Seperti diungkapkan
Lasswell dalam Effendy (1988) “komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh
komunikator kepada komunikan melalui media sehingga menimbulkan efek tertentu”
(Effendi, 1988:13).
Desain/Lay-Out
Lay-out dalam sebuah koran/surat kabar memiliki fungsi serta tujuan untuk sell
the news, grade the news set the tone, and guide the readers (menawarkan/menjual
berita, menentukan rangking berita, membimbing para pembaca akan hal-hal yang
harus dibaca terlebih dahulu).
Lebih lanjut lay-out sebuah surat kabar/koran dibuat dengan menyesuaikan
gerak mata para pembaca. Dalam penyusunan lay-out sebuah surat kabar/koran,
selain diperlukan adanya pengetahuan tentang jenis dan warna huruf, juga harus
memiliki jiwa seni. Sebab dari ukuran huruf untuk headline, panjang berita,
besar dan warna foto atau tulisan sangat berpengaruh terhadap mata pembaca.
Posisi suatu berita, isi dan pola yang digunakan semuanya dibuat untuk
melayani pembaca. Sehingga lay-out itu disesuaikan dengan siapa pembacanya.
Berdasarkan desain, lay-out, dan tipografi dapat menjadi sebuah ekspresi
pencerminan kepribadian surat kabar itu sendiri, sehingga pembaca dapat
memberikan penilaian akan jenis surat kabar yang dibacanya.
Lay out koran memang agak berbeda dengan lay-out majalah atau tabloid,
karena koran lebih cenderung untuk menampilkan informasi secara padat. Padat
disini dalam pengertian bahwa jumlah berita bisa panjang, namun luasan cetak
sangat terbatas. Sebagai konsekuensi, teks cenderung lebih kecil, jarak antar
baris juga sempit.
Untungnya, koran menampilkan informasi dalam bentuk kolom, sehingga
memudahkan kita untuk mengikuti alur membacanya. Jadi, paling tidak tetap ada
unsur yang membantu pembaca dalam menikmati informasinya.
Berdasarkan jenisnya lay-out surat kabar/koran dapat dibedakan menjadi:
- Symitrikal lay-out; disebut
juga foundry/vertical lay-out, karena lebih seperti jemuran, letak
berita-beritanya seimbang. Lay-out seperti ini digunakan oleh The New York
Times.
- Informal balance lay-out;
banyak dipakai oleh surat kabar, karena mengarah kepada kesempurnaan suatu
keseimbangan. Foto yang hitam akan lebih baik jika diletakkan di kanan
atas halaman, dan akan kelihatan berat kalau diletakkan di bagian bawah
halaman.
- Quadrat lay-out atau tata rias
segi empat; sangat baik untuk surat kabar yang akan dijual di pinggir
jalan secara eceran, karena koran akan berlipat empat, dan pada seperempat
bagian yang tampak itu akan diperlihatkan berita-berita penting dan
menarik.
- Brace lay-out; menonjolkan
suatu berita besar, lay-out seperti ini sering menggunakan “Banner
Headline”, judul panjang. Berita penting ditempatkan disebelah kanan surat
kabar, sehingga mengikat pandangan pembaca ke arah sana, kemudian judul
lain di sebelah kiri, dan sebelah kanan lagi.
- Circus lay-out; tata rias
karnaval, karena ramainya halaman depan. Semua judul berita dipamerkan di
halaman pertama, isinya di halaman lain. Contoh seperti ini adalah Pos
Kota (Jakarta), atau koran-koran mingguan.
- Horizontal lay-out; tata rias
mendatar, judul berita dibuat mendatar, dengan berita yang tidak terlalu
panjang.
- Function lay-out; tata rias
yang setiap hari berubah, bergantung kepada perkembangan isi berita hari
itu. Bila terjadi hal-hal luar biasa sering dipakai apa yang disebut
“skyline heads”. Jadi ada gejala pemindahan nama tempat nama surat kabar
itu sendiri. Lay-out seperti ini sering juga dipakai oleh koran-koran
mingguan terbitan Jakarta.
8. Selain bentuk kolom-kolom menjadi sangat penting untuk lay-out koran ada satu
lagi yang tidak kalah pentingnya yaitu white space atau ruang kosong.
Penggunaan white space, atau ruang kosong, berguna untuk membantu pembaca fokus
ke sajian utama, juga memisahkan elemen, entah karena alasan prioritas atau
memang seharusnya terpisah.
9. Penggunaan ruang kosong yang tepat juga membantu pembaca untuk menikmati
halaman dengan lega, sehingga membuat effek si pembaca berita merasa lebih
nyaman tidak terkesan terlalu padat. White space ini biasanya juga ditempatkan
sebagai pembatas antara berita dengan iklan.
10. Berbagai cara sengaja dilakukan oleh pembuat desain/lay-out koran tujuannya
cuma satu, bagaimana membuat pembaca nyaman membaca dan cepat menangkap
informasi yang ingin disampaikan dalam berita.
Ada sepuluh tips untuk membuat desain
lay-out koran lebih baik, diantaranya:
1. HIRARKI. Pembaca melihat – bukan membaca – sekilas apa berita yang paling
penting pada sebuah halaman. Jadi tetapkan dengan jelas apa yang menjadi
jangkar (berita utama) di tiap halaman. Lalu aturlah sedemikian rupa sehingga
memang berita itulah yang disimak pertama kali oleh pembaca, kemudian
berita-berita lainya..
2. CIPTAKAN titik Pusat Pengaruh Visual (Central Visual Impact/CVI). Lebih dari
80 persen pembaca menelusuri halaman dengan mengikuti gambar-gambar dominan.
Hal yang harus paling mencolok mata adalah berita utama. Ini berlaku untuk
setiap halaman – tidak hanya halaman satu.
3. TERTATA. Kebanyakan pembaca adalah orang yang sibuk. Karena itu informasi
dalam sebuah halaman harus tertata rapi untuk menghindari kebingungan.
4. KONTRAS. Halaman yang berhasil selalu memiliki elemen vertikal dan horisontal.
Juga memilik elemen yang dominan dan elemen sekunder. Juga selalu tersusun ada
sebuah berita utama (lead), berita penting tapi bukan berita utama (dominant
headline) dan beberapa berita head sekunder.
5. WARNA. Warna harus digunakan untuk menginformsikan sesuatu, bukan sekedar
hiasan, atau kosmetik halaman. Penggunaan warna yang paling tepat dan paling
baik adalah pada foto dan grafik. Warna juga harus mempermudah pembaca. Penata
wajah harus berdasar pada logika ketika menggunakan warna. Ingat untuk urusan
warna, kita benar-benar harus membatasi nafsu.
6. TIPOGRAFI. Semakin banyak jenis huruf yang digunakan, membuat pembaca semakin
terpecah konsentrasi membacanya. Harus dicari kecocokan antara apa isi berita
dan apa jenis huruf yang harus digunakan.
7. BERI KEJUTAN. Setiap hari – ingat setiap hari – kita harus memberi kejutan kepada
pembaca. Mungkin kejutan itu datang lewat foto, pilihan berita utama, desain
halaman, atau grafik. Pastikan bahwa pembaca – setelah membaca –
merekomendasikan kepada orang lain untuk membacanya. Desain harus dapat
menambah “daya kejut”. Rahasianya: istimewakanlah salah satu dari unsur yang
hendak kita bikin sebagai kejutan tadi.
8. LABRAK ATURAN. Peraturan dibuat untuk dilabrak? Betul, tapi harus ada alasan yang
benar! Kalau aturan yang kita buat terus-menerus kita abaikan, konsistensi
terpental keluar jendela. Hasil desain kita jadinya seperti retuntuhan
bangunan. Ini salah. Soalnya tak ada lagi “penanda” yang menjadi pegangan
pembaca. Tapi jangan juga terlalu patuh pada aturan karena itu pasti akan
membuat pembaca bosan.
9. KONSISTEN. Letakkan semua unsur halaman di tempat yang sama setiap hari. Jika di
halaman ada rubrik, ada kolom, ada tabel atau grafis dan boks, letakkan pada
tempat yang sama setiap hari, sampai ada perubahan desain yang diputuskan
kemudian. Dengan begitu, maka pembaca yang sibuk tidak makan waktu banyak untuk
mencari informasi itu sebelum membacanya.
10.
NYAMAN DILIHAT. Desain yang
simpel, tapi dinamis dan nyaman dilihat adalah tujuan utama dari desain
halaman. Ingat isi dari surat kabar lebih penting dari desainnya. Ingat juga
bahwa desain itu hanya pengantar yang membawa tugasnya memikat pembaca lalu
membawa pembaca ke isi berita.
Catatan:
1.
Lay-out hendaknya mengikuti kebiasaan
arah mata berputar, yakni dari kiri ke kanan. Iklan hendaknya jangan diletakkan
di halaman depan.
2.
Gambar yang baik, yang ada aksinya.
Hindari memuat pas foto. Karena dengan foto aksi (action) seolah-olah
pembaca bertatap muka dengan orang bersangkutan.
3.
Gambar hendaknya jangan di sebelah kiri
halaman.
4.
Fungsi foto, sama dengan headline. Foto
mempunyai fungsi yang penting dalam lay-out.
5.
Gambar jangan bertumpuk. Kalau mau
banyak, dapat diletakkan di halaman dalam atau bersambung ke halaman lain.
6.
Kalau surat kabarnya berwarna, jangan
terlalu banyak menampilkan warna. Sebaiknya redaktur mempelajari bahasa warna
atau mengangkat seorang seniman yang mengerti arti warna.
7.
Berita ditulis bukan untuk menyenangkan
sumber berita, tetapi untuk kepentingan pembaca.(fm)
Dari berbagai sumber
Tidak ada komentar:
Posting Komentar